Adaptif dan fleksibel: Ketika Adaptasi dan fleksibel menjadi sebuah peluang untuk menemukan teman yang beragam
karena saya dididik untuk menjadi pintar tanpa bergantung pada orang lain terhadap suatu bidang, maka saya akan memberikan pengalaman saya selama kuliah, bagaimana untuk membangun sebuah relasi berkualitas ditengah ketidakpastian masa depan berikut nya, bertujuan untuk mengobati masa lalu yang tertahan akibat ketidaksesuaian lingkungan, masalah ekonomi dan juga penerapan etika yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan sehingga seseorang memilih untuk meninggalkannya ditengah hal tersebut dengan berdasarkan reputasi teman tersebut di mata orang tua kita sih
di waktu saya mulai masuk kuliah tepat nya sekitar 8 okt 2021 dimana saya mulai memasukki pengenalan secara daring akibat covid-19 tepatnya sekitar jam 19:00 menggunakan microsoft teams yang dibawakan oleh handoko handoko dengan mahasiswa/i yang mencapai 538 dan disini aku mencari sebuah target yang menjadi sebuah roadmap untuk masuk kuliah karena tujuan aku kuliah bukan lagi ingin bersaing tetapi berkembang jadi arah dengan penuh relasi serta kenyamanan emosional sehingga kita dapat mengembangkan diri dan tidak mengalami kehilangan koneksi seperti sebelum kuliah.
Ada masa dalam hidup di mana saya merasa harus selalu menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain. ketika kita memasukki sebuah kelompok kemungkinan besar orang tersebut sudah excited dengan kita dan menyambut welcome dengan membawa segudang pengalaman tetapi nyaris kita menemukan sebuah hal yang tidak diinginkan ketika memasukki sebuah komunitas kondisi yang dilalui serta ekspetasi kekayaan yang ada di kepala nyaris tidak sesuai dengan realita maka dari itu disini awal mula terbentuk self-esteem adaptative resilience dan flexible dan yaitu kemampuan untuk menyesuaikan apapun dengan bermodalkan proaktif
dari serius hingga tertawa lihat meme lucu semua itu ada pada kebersamaan serta pengalaman yang dilalui bersama
semakin dewasa, saya makin sadar satu hal:
selain terikat pada orang nya, juga terikat pada rasa percaya dan emosinya yang membuat saya dapat bertahan dengan kepercayaannya .
Dan itulah yang membuat saya menjadi sosok yang adaptif.
Bukan karena ingin menyenangkan semua orang, tapi karena ingin hidup untuk belajar dari budaya orang lain sehingga dengan keterhubungan yang kuat ini dapat membuka jalan diskusi kita yang selama ini tertahan
1. Ketika Adaptasi Menjadi Kebiasaan Sejak Kecil
Dari kecil saya terbiasa dipaksa ikut ritme orang lain oleh orang tua saya: kerja dulu, bantu ini, bantu itu. Jadinya, adaptasi bukan skill yang saya pelajari—tapi sesuatu yang terpaksa saya jalani.
Namun yang menarik, dari kebiasaan itu tumbuh sesuatu yang tidak saya sadari:
kemampuan membaca situasi.
Saya tahu kapan harus:
-
bicara,
-
diam,
-
mendekat,
-
menjauh,
kalimat yang tidak mengenakan
aturan yang dibuat untuk kepentingan diri mereka
-
atau sekadar mengamati.
kapan harus mengetahui orang ini
prediksi berdasarkan pembicaraan orang terdekat
dan juga trauma masa lalu
Dan kemampuan itu ternyata menyelamatkan saya berkali-kali dari drama sosial yang menghambat perkembangan saya dalam menjadi seorang growth mindset yang ingin belajar hal baru.
2. Saya Belajar terikat pada orang — sekaligus Terikat Pada Emosi Baik
Saya adalah orang tipe yang “melekat” pada satu orang atau satu orang namun jika orang tersebut tidak konsisten maka saya akan mencari nya lagi sebagai balasan emosi berikut nya karena setiap ucapan mereka maka, saya akan mencatat pada setiap orang dalam sirkel tertentu untuk mengetahui setiap perilaku manusia tersebut. Karena jujur, kalau mulai banyak drama, saya sudah pasang mode:
“Oke… mungkin aku akan memperbaiki nya lagi sebagai feedback agar tetap dapat diterima.”
Bukan karena saya tidak mencampuri drama.
Tapi karena saya tahu bahwa emosi itu dirasakan setelah individu mendapatkan kecerdasan intelektual dan hanya didapatkan ketika sama sama nyaman dengan perilaku tersebut, dan tidak semua orang bisa memiliki perilaku tersebut.
Saya lebih memilih menjaga relasi yang:
-
jujur,
-
tenang,
-
saling percaya,
-
sama-sama nyaman dengan drama yang dijalankan.
sama-sama berkembang
Kalau vibes-nya berubah jadi toksik maka aku akan menyelesaikan masalah dengan dingin ?
Ya sudah… saya adaptasi dan menyesuaikan kapan aku berhenti, bukan tenggelam.
3. Resilience: Ketika Hidup kuat membawa kita tahan terhadap tekanan dan mampu mengedepankan sebuah inovasi baik dalam teknologi maupun kehidupan sosial
Saya pernah berada di situasi di mana pikiran penuh, energi habis, tapi harus tetap jalan.
Dan setiap kali begitu, saya mengingat satu hal:
“Resilience bukan soal menahan semuanya, tapi membiarkan saya berkembang tanpa bergantung pada orang lain dan hanya memerlukan keterhubungan seseorang tanpa harus terlibat drama panjang”
Saya belajar bahwa:
-
Berkembang sama seseorang yang memiliki visi misi yang sama membawa kita ke produktivitas yang tinggi
- Memiliki Misi yang sama untuk mengembangkan diri membuat kita bisa termotivasi tanpa ada persaingan
-
mengembangkan kreativitas yang tinggi membuat kita semakin mengedepankan ide dan inovasi
-
memuaskan semua orang untuk mengetahui sejauh apa emosional mereka dalam mendukung jika tidak maka kita akan membuat batasan tertentu
Yang penting: saya berkembang menjadi seorang growth mindset dan adaptasi serta merta mengembangkan diri sendiri.
yang penting, aku bisa melakukan sebuah studi kasus kompleks dengan catatan memiliki keterikatan emosional yang bagus untuk berkembang tanpa ada ketidak salahpahaman
4. Menjadi Adaptif itu merupakan Bijaksana
Menjadi adaptif justru berarti:
-
kita tahu kapan harus fleksibel,
-
kita tahu kapan harus tegas,
-
kita tahu kapan harus pergi,
-
dan kita tahu kapan harus diam demi kebaikan diri sendiri.
Adaptif itu seperti air.
Dia tidak melawan bentuk, tapi menemukan jalannya sendiri.
Resilience membantu air nya tetap bergerak bahkan ketika menghadapi hambatan.
Fleksibel adalah kemampuan air untuk berubah bentuk tanpa kehilangan esensinya, sehingga ia dapat menyesuaikan kemampuan yang bisa lebih dari yang ia kira berkat kecerdasan intelektual dibarengin dengan koneksi tersebut
🌤️ Penutup: Adaptif, flexible dan resilience adalah ciri dari orang sejati untuk tetap bertahan ditengah ketidakpastian masa depan menempuh pendidikan kuliah dan karir ditengah hadir nya kecerdasan buatan yang sebagai solusi untuk meningkatkan pemahaman terhadap inovasi teknologi
Ketika saya melihat ke belakang, saya menyadari satu hal penting: kekuatan terbesar saya bukan pada apa yang saya tahu, tetapi pada kemampuan untuk tetap tenang, tetap bergerak, dan tetap menjadi diri sendiri di tengah perubahan.
Adaptif, fleksibel, dan resilience bukan hanya keterampilan.
Mereka adalah cara hidup:
cara tetap waras, tetap berkembang, dan tetap damai di tengah ketidakpastian—baik dalam pendidikan, karier, maupun di era kecerdasan buatan yang terus berkembang.
sekaligus mencari relasi yang dapat dijadikan sebuah teman kapan serius kapan tertawa kapan wkwkwk dan segala kerandoman yang selalu ada untuk menghiasi kebersamaan dalam sebuah sirkel
hal ini juga berlaku ketika memasukki lingkungan baru terutama untuk dunia kerja yang membutuhkan kemampuan adaptasi dan problem solving berdasarkan pemahaman terhadap sistem perusahaan dengan kecepatan tinggi sehingga individu dapat beradaptasi dengan cepat dalam menyelesaikan masalah tersebut
Comments
Post a Comment